Ayam Kampus, Tersadarkan melalui Hipnoterapi

Ayam kampus adalah sebuah istilah yang diberikan untuk pekerja seks komersial (PSK) dari kalangan mahasiswi. Jika dibandingkan dengan PSK di lokalisasi, keberadaan ayam kampus lebih sulit dilacak keberadaannya. Saat diperhatikan, penampilan dan keseharian mereka di kampus terlihat sama dengan mahasiswi-mahasiswi lainnya. (Wikipedia)

Setidaknya ada beberapa perbedaan mendasar dari PSK pada umumnya. Tak lain adalah soal modus operandinya. “PSK umum, sebagian besar terang-terangan menjalankan pekerjaannya. Salah satunya dengan mangkal di sejumlah lokalisasi atau prostitusi. Ayam kampus, jelas terselubung,” katanya. Seorang mahasiswi S1 semester akhir, yang sedang merantau di Makassar.

Moammar Emka, pengarang buku tentang kehidupan metropolis di Jakarta

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan mahasiswi yang memilih jalan hidupnya sebagai ‘ayam kampus’ biasanya berawal dari keinginan mereka menambah uang jajan dan gaya hidup mewah. Kosmetik terbaru, pakaian yang sedang tren, sepatu, pakaian, jam, perhiasan, semuanya bisa diperoleh dengan jalam pintas.

Faktor yang membuat mahasiswa menjadi ayam kampus :

Faktor yang memotivasi atau menyebabkan mahasiswi tersebut menjadi “ayam kampus” adalah karena kondisi keluarga yang tidak mampu untuk memberikan pendidikan informal yang sesuai bagi subjek, adanya pengaruh dari lingkungan pergaulan yang dalam hal ini adalah teman, karena keinginan subjek untuk selalu mengikuti fashion tanpa harus selalu meminta materi kepada keluarga, dan karena subjek telah menjadikan seks sebagai suatu kebutuhan

Kehidupan Sosial

Mahasiswi “ayam kampus” ini merupakan salah satu mahasiswi yang sedang menuntut ilmu di salah satu PTN di Surabaya. Merupakan seorang perantau yang berasal dari luar kota Surabaya. Usia 25 tahun. Subjek tinggal di salah satu rumah kos yang ada di wilayah Surabaya Barat.

Kegiatan yang dilakukan subjek di luar jam kuliah adalah clubing, nongkrong atau belanja. Tempat yang sering dikunjungi adalah club malam yang ada di wilayah kota Surabaya.

Subjek beroperasi di luar jam kuliah, tetapi biasanya malam hari setelah clubing atau juga siang hari tergantung dengan keinginan pelanggan. Cara berpenampilan subjek memang lebih mencolok dibandingkan dengan mahasiswi lainnya,

Maksudnya adalah bahwa secara berpakaian, subjek menggunakan barang-barang branded/bermerk, pakaian yang bagu dan seksi, menggunakan minyak wangi yang aromanya tahan hingga beberapa jam karena memang merupakan minyak wangi bermerk terkenal dan juga menggunakan make up natural yang terlihat bagus yang dapat menunjukkan bahwa subjek telah terbiasa dalam berdandan.

Cara bertransaksi subjek

Cara bertransaksi subjek adalah secara langsung dan tidak langsung. Transaksi langsung terjadi pada saat subjek berada di klub malam. Sedangkan transaksi tidak langsung adalah melalui alat komunikasi seperti handphone (HP).

Hubungan seksual berlangsung di salah satu hotel di Surabaya tergantung dengan permintaan pelanggan. Upah yang diterima berkisar Rp 500.000-2.000.000 per pelanggan tergantung dengan kebutuhan pelanggan.

Tetapi subjek juga memiliki kebebasan untuk meminta uang atau materi kepada pelanggan tetapnya yang telah memberikan wewenang tersebut kepada subjek.

Interaksi sosial subjek yang terjadi di lingkungan kampus sama seperti mahasiswa lainnya yang menjalin komunikasi antar sesama teman maupun dosen.

Interaksi sosial

Sedangkan interaksi sosial yang terjadi di sekitar lingkungan kos kurang baik. Sebab subjek pernah mabuk, berteriak bahkan akan telanjang di depan kos sehingga tetangga, teman kos maupun pemilik kos yang tidak mengenalnya merasa terganggu dan belum terbiasa dengan hal tersebut, namun semakin lama mereka semua mulai terbiasa meskipun masih merasa terganggu.

Selain itu juga subjek sering berhubungan seks dengan suami pemilik kos sehingga menyebabkan ibu kos merasa tidak suka dengan subjek.

Makna fenomena kehidupan

Mahasiswi “ayam kampus” memaknai fenomena kehidupannya sebagai hak asasi manusia. Artinya subjek merasa kehidupan yang dipilihnya merupakan hak bagi dirinya sendiri dan tentunya tanggung jawab dan resiko merupakan hal yang telah dipertimbangkan olehnya.

Sejauh ini subjek juga tidak mempermasalahkan opini masyarakat tentang dirinya, namun dirinya tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Salah satu usaha yang dilakukannya yaitu dengan
berusaha merubah kebiasaan buruknya ketika mabuk, sehingga tidak mengganggu masyarakat di sekitar rumah kos

Secara umum terdapat lima alasan yang paling mempengaruhi dalam menuntun seorang perempuan menjadi seorang pekerja seks komersial (PSK) di antaranya adalah materialisme, modelling, dukungan orangtua, lingkungan yang permisif, dan faktor ekonomi.

Koentjoro (2004: 134)

Mereka yang hidupnya berorientasi pada materi akan menjadikan banyaknya jumlah uang yang dikumpulkan dan kepemilikan sebagai tolok
ukur keberhasilan hidup.

Banyaknya PSK yang berhasil mengumpulkan banyak materi atau kekayaan akan menjadi model pada orang lain sehingga dapat dengan mudah ditiru.

Di sisi lain, seseorang menjadi PSK karena adanya dukungan orangtua atau suami yang menggunakan anak perempuan atau istri mereka sebagai sarana untuk mencapai aspirasi mereka akan materi.

Jika sebuah lingkungan yang permisif memiliki kontrol yang lemah dalam komunitasnya maka pelacuran akan berkembang di dalam komunitas tersebut.

Selain karena alasan di atas, terdapat juga orang yang memilih menjadi PSK karena faktor ekonomi, yang memiliki kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

Subjek menunjukkan bahwa motivasi yang mendorongnya menjadi mahasiswi “ayam kampus” adalah karena kondisi keluarga yang
tidak mampu untuk memberikan pendidikan informal yang sesuai bagi subjek.

Satu dari mereka tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu karena ibunya telah meninggal sejak subjek lahir, ayah dari subjek juga tidak pernah memberikan pendidikan nonfomal serta kebutuhan batin bagi seorang anak, sedangkan subjek sendiri hidup bersama neneknya yang memiliki materi berlimpah.

Namun kenyataannya subjek masih merasa kurang akan hal yang dimilikinya karena pada dasarnya subjek tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua sejak subjek lahir.

Sedangkan satu subjek yang lain memiliki keluarga yang masih utuh namun tidak ada kontrol dari orang tua atau bisa digambarkan bahwa pendidikan informal tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kisahnya bermula disini

Mengubungi saya untuk bertemu. Alasannya bertemu dengan saya adalah, mau menjadikan saya sebagai narasumber pada skripsinya yang bertemakan hipnoterapi dan .

Karena alasannya logis, datanglah saya ditempat yang ia janjikan, 15-25 menit ia sibuk mencatat apa yang saya katakan.

Sayapun mensharingkan beberapa pengalaman saya dalam melakukan hipnoterapi.

Ketika saya menceritakan sebuah kisah lainnya, Mukanya memerah dan tiba-tiba saja, meneteskan air mata. Sayapun kaget.

Syukurnya, ia ditemani salah satu temannya ketika ia melakukan interview pada saya.

“Ka’ saya mau di hipnoterapi”, itulah kata yang keluar setelah ia termenung meneteskan air mata. “Saya punya kebiasaan buruk ka'”, Apa itu ? “Saya ingin berhenti merokok, dan berhenti jadi aam kamus ka’.

Saya tidak menyangka, Perempuan yang terlihat berwibawah, berkelas, dengan setelan asisten manager, ternyata ia seorang perokok dan seorang perempuan penghibur.

“Kenapa kamu tidak berhenti, saja ?”, kataku ke dia. “Saya sudah berkali-kali, mencobanya tapi tidak bisa, saya sudah ganti nomor, tapi ujung-ujungnya saya yang mencari om2 itu, bukan uang yang saya cari, tapi entah kenapa itu sudah menjadi kebiasaan saya”

“Saya sudah sholat, tapi saya masih merasa hina, doaku sudah tidak didengar Allah, Tidak ada satupun doa saya yang diijabah ka”, katanya sambil mengusap air matanya.

Beberapa saat setelah ia menceritakan masalahnya, saya memutuskan untuk melakukan hipnoterapi dengan kedalaman medium trance.

Sayapun memberikan ia edukasi tentang hipnoterapi dan tentu meminta izin ke pikiran bawah sadarnya agar proses terapi ini berjalan dengan lancar.

Setelah semuanya selesai, Sayapun mmemulai terapi.

Sayapun memundurkan ingatan masa lalunya, untuk mencari akar masalahnya. Kapan dan mengapa ia bisa seperti ini.

1 menit kemudian, Alhamdulillah ketemu, ternyata Pada saat pindah sekolah, tepatnya SMA kelas 3 di Makassar.

Ia sering dibully oleh teman-temannya. Karena mukanya yang deso, rambut berkuncir, dan baju yang kebesaran.

Dasar kampungan !, Orang kampung ! Sakkulu ! Adalah kata-kata yang sering ia terima.

Hampir 7 bulan ia mendapatkan bully dari teman sekolahnya. Selama itu pula Ia menahan rasa sakit hati tersebut.

Suatu saat ia diajak oleh 2 orang teman kelasnya, Temannya meminta dia untuk merubah penampilan dan perilakunya.

Baju sekolah yang ia kenakan, telah di perketat ukurannya, sehingga terlihatlah lekukan tubuhnya. Rambutnya di rebonding disalon ibu temannya. Ia diajarkan menggunakan bedak dari temannya.

Awalnya ia sangat canggung dengan setelan barunya kesekolah,

Tapi setelah teman-temannya melihat perubahan dia, Teman-temannya kagum, dan berhenti membuly dia, bahkan banyak yang menaksir dia.

Dia sangat senang dan bahagia akan perubahannya. Ia senang tidak dibully lagi, malahan ia senang sekarang karena dipuja oleh teman-temannya.

Perasaan yang ndeso dari pikirannya hilang seketika, ia merasa jadi anak kota. Sembari waktu mengalir, Kemudian ia diajak ke diskotik, dll .

Karena tidak ingin dikatakan ndeso lagi, iapun dengan senang hati menerima ajakan temannya. Temannya yang punya banyak uang, terus mengajak ia keluar malam.

Hingga pada suatu saat, Temannya mengajarkan ia untuk mencari uang dengan cara melayani om-om.

Sekali lagi, karena takut di katakan ndeso lagi dan teman-temannya juga meyakinkan dia, bahwa ini sudah biasa buat kita anak sekolahan yang tinggal dikota.

Akhirnya iapun menerima tawaran ini, Beberapa minggu, ia begitu bahagia, Ia bisa mendapatkan uang Rp 10 jt dengan mudah.

Ia begitu senang dan bahagia, Iapun menjadikan ini sebagai rutinitas jika tidak ada tugas sekolah.

Ia yang tinggal bersama tantenya seorang. membuat dia bebas keluar malam.

Waktu terus berjalan, Hingga ia lulus sekolah dan melanjutkan sekolahnya. Dari sisa uang yang dia simpan, ia melanjutkan kuliahnya.

Ibunya yang heran, Mengapa anaknya bisa memndapatkan uang sebanyak itu, Ia mengatakan kepada ibunya, jika ia berhasil dapat beasiswa, Seketika itupun ibunya menjadi tenang dan senang,

Namun dibelakang itu semua, Ia menikmati menjadi a*am kampus sebutan pekerjaannya buat dia.

Hingga ia berada pada semester akhir ini, dan bertemu dengan saya. Ia mulai merasa dirinya tersiksa akan kebiasaan ini. Namun begitu pusing jika tidak melakukannya.

Singkatnya sayapun memberikan teknik pelepasan emosi terlebih dahulu, menetralkan kata ndeso dipikiran bawah sadarnya, serta memberikan edukasi dan mengajaknya bertaubat, kembali kejalan-Nya.

Terakhir saya menggunakan forgiveness terapi agar ia bisa memaafkan dirinya, temannya dan keadaan.

Proses terapi yang berlangsung selama 45 menit lebih, Berakhir. ia menjadi lebih tenang dari pada sebelumnya.

Tadinya ia memiliki wajah yang begitu berat sekarang sudah menjadi legah.

Kabar baiknya setelah diterapi, dan tidak ada kabar sebelumnya Alhamdulillah akhirnya ia memberikan kabar.

Ia mengatakan Jika ia sudah tidak pernah lagi kediskotik dan sudah tidak merokok, berhubungan dengan om-om Dan saat ini sedang belajar sholat kembali.

Alhamdulillah. Sesungguhnya Allah maha pengampun dan menerima taubat, setinggi gunung, dan seluas samudera pun dosa kita.

.
Coach Risman.A
Expert Brief Hypnotherapy

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *