Cara Menghilangkan trauma Karena Bully

Saat ini, siapa yang tidak mengenal bully. bully atau bullying Menurut Smith dan Thompson (Yusuf & Fahrudin, 2012) adalah seperangkat tingkah laku yang dilakukan secara sengaja dan menyebabkan kecederaan fisik serta psikologikal yang menerimanya. Sehingga dapat diartikan bahwa pelaku bullying ini menyerang korban secara sadar dan sengaja tanpa memikirkan kondisi korban.

Bullying di jaman ini pun sangat parah, mulai dari bullying di media sosial bahkan terjadi di beberapa negara seperti, Austria Dari penelitian yang dilakukan oleh OECD ditemukan sebuah fakta yang cukup mencengangkan. Satu dari lima anak usia 11-15 tahun di Austria pernah mengalami yang namanya bully. Mereka dikucilkan oleh temannya, dianiaya, hingga diolok habis-habisan

Estonia, anak-anak sekolahan hingga kampus yang dianggap aneh langsung jadi bulan-bulanan massa. Biasanya anak-anak akan masuk ke dalam lingkaran fraternity. Sebagai junior mereka akan diperlakukan dengan tidak baik entah itu secara fisik atau seksual.

Rusia, di negara ini sangat banyak kasus bullying, bahkan mereka yang memiliki penyimpanan seksual seperti LGBT, akan diperlakukan seperti bukan manusia

di Jepang, Bullying dilakukan dengan menganggap seseorang itu tidak ada. Keadaan ini jauh lebih parah dari mereka yang dipermalukan di depan umum atau dikasari secara fisik.

Di negeri kita sendiri, Indonesia, banyak dari kita begitu mudah menghakimi orang lain di media sosial khususnya, Jika ada seseorang berperilaku aneh, dia akan di-bully habis-habisan di sosial media tanpa mengetahui benar atau salahnya terlebih dahulu. Orang-orang di negeri ini sebagian besar suka ikut-ikutan tanpa memperhitungan masalah-masalah lain nya

Korea Selatan, termasuk dengan kasus bullying tertinggi di dunia, Beberapa orang target bullying yang tidak mampu menahan tekanan biasanya akan stres hingga membunuh dirinya sendiri.

Amerika, walau menjadi negara yang hebat, namun kasus bullying adalah kasus yang menjadi perhatian bagi penggiat psikolog dan hipnoterapis ataupun pemerhati bullying, di Amerika, Mereka yang berkulit hitam atau beragama Islam kerap mendapatkan perlakukan bully yang mengerikan. Akhirnya, banyak dari mereka menarik diri dari lingkungan secara perlahan-lahan.

Faktor Penyebab Terjadi Bullying

Faktor individu

Terdapat dua kelompok individu yang terlibat secara langsung dalam peristiwa buli, yaitu pembuli dan korban buli. Kedua kelompok ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku buli. Ciri kepribadian dan sikap seseorang individu mungkin menjadi penyebab kepada suatu perilaku buli.

a. Pembully

Pembuli cenderung menganggap dirinya senantiasa diancam dan berada dalam bahaya. Pembuli ini biasanya bertindak menyerang sebelum diserang. Biasanya, pembuli memiliki kekuatan secara fisik dengan penghargaan diri yang baik dan berkembang. Pembuli juga biasanya terdiri dari kelompok yang coba membina atau menunjukkan kekuasaan kelompok mereka dengan mengganggu dan mengancam anak-anak atau murid lain yang bukan anggota kelompok. Kebanyakan dari mereka menjadi pembuli sebagai bentuk balas dendam. Dalam kasus ini peranan sebagai korban buli telah berubah peranan menjadi pembuli

b. Korban bully

Korban buli ialah seseorang yang menjadi sasaran bagi berbagai tingkah laku agresif. Dengan kata lain, korban buli ialah orang yang dibuli atau sasaran pembuli. Anak-anak yang sering menjadi korban buli biasanya menonjolkan ciri-ciri tingkah laku internal seperti bersikap pasif, sensitif, pendiam, lemah dan tidak akan membalas sekiranya diserang atau diganggu. Secara umum, anak-anak yang menjadi korban buli karena mereka memiliki kepercayaan diri dan penghargaan diri (self esteem) yang rendah

  1. Faktor keluarga

Latar belakang keluarga turut memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku bullying. Orang tua yang sering bertengkar atau berkelahi cenderung membentuk anak-anak yang beresiko untuk menjadi lebih agresif. Anak-anak yang mendapat kasih sayang yang kurang, didikan yang tidak sempurna dan kurangnya diberikan ajaran yang positif akan berpotensi untuk menjadi pembuli.

  1. Faktor teman sebaya

Teman sebaya memainkan peranan yang tidak kurang pentingnya terhadap perkembangan dan pengukuhan tingkah laku buli, sikap anti sosial dan tingkah laku di kalangan anak-anak. Kehadiran teman sebaya sebagai pengamat, secara tidak langsung, membantu pembuli memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status. Dalam banyak kasus, saksi atau teman sebaya yang melihat, umumnya mengambil sikap berdiam diri dan tidak mau campur tangan.

  1. Faktor sekolah

Lingkungan, praktik dan kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar kepada pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka pelajar mungkin bertindak untuk mengontrol lingkungan mereka dengan melakukan tingkah laku anti sosial seperti melakukan buli terhadap orang lain. Managemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah akan mengakibatkan lahirnya tingkah laku buli di sekolah

  1. Faktor media

Paparan aksi dan tingkah laku kekerasan yang sering ditayangkan oleh televisi dan media elektronik akan mempengaruhi tingkah laku kekerasan anak- anak dan remaja. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat diramaikan oleh perdebatan mengenai dampak tayangan Smack-Down di sebuah televisi swasta yang dikatakan telah mempengaruhi perilaku ke-kerasan pada anak-anak.

Meskipun belum ada kajian empiris dampak tayangan Smack-Down di Indonesia, namun para ahli ilmu sosial umumnya menerima bahwa tayangan yang berisi kekerasan akan memberi dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang kepada anak-anak

  1. Faktor kontrol diri

Kontrol diri adalah faktor yang berasal dari diri individu. Kontrol diri yang dimiliki setiap individu berbeda-beda, ada yang memiliki kontrol diri yang tinggi dan ada yang memiliki kontrol diri yang rendah. Menurut Denson (2012) kontrol diri dapat menurunkan agresi dengan mempertimbangkan aspek dan aturan yang berlaku. Dengan adanya kontrol diri individu dapat mengatur perilakunya secara positif dan mempertimbangkan kosekuensi yang di hadapi sehingga menghindari untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap teman- temannya.

Sedangkan menurut sejiwa (2008) pelaku bullying memiliki beberapa
karakteristik. Karakteristik yang terdapat pada pelaku bullying yaitu :

a. Pelaku bullying umumnya seorang anak atau murid yang memiliki fisik besar dan kuat.
b. Pelaku bullying yang memiliki tubuh kecil atau sedang namun memiliki dominasi psikologis yang besar dikalangan teman-teman sebaya.
c. Memiliki kekuatan dan kekuasaan di atas korban bullying.

d. Memiliki rasa puas apabila pelaku berkuasa di kalangan teman sebaya.

e. Individu memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah, sehingga cenderung melakukan bullying untuk menutupi kekurangan pada diri individu
f. Individu yang memiliki rasa kepercayaan diri yang begitu tinggi dan memiliki dorongan untuk selalu menindas serta menggencet anak yang lebih lemah.
g. Pada umumnya memiliki sifat temperamental, sehingga individu melakukan kesalahan bullying kepada orang lain sebagai pelampiasan rasa kekesalan dan kekecewaan diri individu.
h. Individu yang merasa tidak memiliki teman, sehingga menciptakan situasi

bullying agar memiliki “pengikut”.

i. Individu yang merasa takut menjadi korban bullying, sehingga lebih dulu mengambil inisiatif sebagai pelaku.
j. Individu yang hanya mengulang kejadian yang pernah dilihat dan dialami, seperti pernah merasakan dianiaya oleh orang tua di rumah dan dianiaya oleh teman-teman sebaya

Lima bentuk perilaku bullying tersebut yaitu :

a. Kontak Fisik Langsung

Bentuk kontak langsung antara lain seperti memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, memeras, dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain.
b. Kontak Verbal Langsung

Kontak verbal langsung yang ditunjukkan antara lain seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, menganggu, memberi panggilan nama, mencela atau mengejek, mengintimidasi, memaki, dan menyebarkan gosip.
c. Perilaku Non-Verbal Langsung

Perilaku non-verbal langsung yang ditunjukkan antara lain seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek atau mengancam (biasanya disertai dengan bullying fisik atau verbal).
d. Perilaku Non Verbal tidak langsung

Perilaku non-verbal tidak langsung yang ditunjukkan antara lain seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, dan mengirimkan surat kaleng.
e. Pelecehan Seksual

Bentuk perilaku bullying dengan pelecehan seksual dikategorikan kedalam bentuk perilaku agresi fisik atau verbal.
Berdasarkan penjelasan mengenai aspek-aspek perilaku bullying diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang menunjukkan perilaku bullying dapat dilakukan secara Verbal, Indirect, dan secara physical dalam bentuk langsung maupun tidak langsung.

Prilaku Bullying

  1. Verbal membentak berteriak memaki bergosip menghina meledek mencela mempermalukan 2. Fisik menampar mendorong mencubit menjambak menendang meninju Sosial mengucilakan membeda-bedakan mendiamkan 4. Dunia maya (cyber bullying) Memperolok di media sosial (mengirimkan berbagai pesan yang menyakiti, menghina, mengancam) Pesan teror Menyebarkan kabar bohong Mengubah foto tidak semestinya Perang kata-kata dari dunia maya (flaming) Membuat akun palsu untuk merusak reputasi seseorang Memperdaya seseorang untuk melakukan sesuatu yang memalukan Mengucilkan seseorang dari grup daring

Cara menangani bullying

  1. Stay cool, misalnya dengan ambil nafas dalam-dalam selama 1 menit kemudian hembuskan keluar. Sembunyikan kemarahan atau kesedihanmu di depan perundung (pelaku/orang yang melakukan perundungan). Berdiri tegak, angkat kepalamu, pandang pelaku dengan tegas, hadapi pelaku dengan tenang atau tinggalkan perundung. Tanyakan permasalahan atau tolak permintaan pelaku dengan sopan. Segera menyingkir bila kamu dalam bahaya. Cari bantuan untuk menghentikan perilaku perundungan yang kamu alami. Blok akun media sosial pembully bila kamu mengalami perundungan siber dan. Simpan perilaku perundungan yang kamu terima sebagai barang bukti. Ceritakan atau laporkan perilaku perundungan yang kamu terima. Hindari bersikap mendendam dan membalas perilaku perundungan yang kamu terima. Curhat ketema atau sahabat agar perasaan kamu legah. Belajar bela diri. jadikan sebagai motivasi kamu bisa sukses dan membuktikan kepada mereka yang membully. Buktikan kalau kita itu lebih hebat dari mereka. Setiap manusia pasti lemah. Misalnya, pintar metematika, jago bulutangkis, dan lain-lain. Dengan begitu, mereka akan sadar kalau mereka sesungguhnya mempunyai kelemahan. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kesabaran dalam menghadapi masalah. Tuhan menopang kita. Tuhan melihat apa yang mereka perbuat. Tuhan juga akan memberi mereka hukuman yang setimpal dengan kita. Jangan menunjukkan perasaan takut, malu atau merasa bersalah, jika kamu benar.

Mari belajar pada kisah Sahabat Rosulllah SAW, Abu Bakar Shidiq.

Suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba- tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya.

Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah SAW tersenyum. Kemudian orang Arab badui itu kembali memaki-maki Abu Bakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar.

Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah SAW kembali memberikan senyum. Semakin marahlah orang Arab badui ini.

Untuk ketiga kalinya si badui mencerca Abu Bakar dengan makian yang jauh lebih menyakitkan. Kali ini–selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu–Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula.

Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah SAW yang sudah sampai halaman rumah.

Kemudian Abu Bakar memanggil beliau. “Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku,” pintanya.

Rasulullah SAW menjawab, “Sewaktu ada seorang Arab badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.

Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.”

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang buruk pula.

Cara menghilangkan trauma Bulliying.

Salah satu tehnik yang sering digunakan oleh psikolog dan hipnoterapis selain memotivasi kliennya adalah dengan cara memaafkan orang-orang yang telah membully diri kita.

Namun sebelum memaafkan, kita harus betul-betul sadar kalau,

  1. Memaafkan untuk kesembuhan diri. 2. Memaafkan bukan berarti melupakan orang tersebut;
  2. Memaafkan tidak harus memberitahukan / bertemu langsung;
  3. Memaafkan adalah untuk kenyamanan diri sendiri;
  4. Memaafkan bukan berarti menyukai orang yang telah bersalah;
  5. Memaafkan bukan berarti mengijinkan kembali kesalahan untuk terjadi. Maafkan sampai trauma itu bukan lagi hal yang sangat mengganggu aktifitas kita.
    Menerima apa yang sedang terjadi.
    Menerima kenyataan dibarengi dengan pemahaman yang lengkap tentang apa yang terjadi.
    Menunda kemarahan.
    Memaafkan bukan berarti kita menunda kemarahan. Memaafkan berarti membolehkan diri sendiri merasa marah, bukan menundanya, namun juga pada saat yang sama, mampu mengelola emosi marah itu sehingga kita tidak berada dalam kendalinya.

Dan penuhi syarat pemaafan sebelum menggunakan teknik terapi pemaafan dibawah ini,

Syarat-syarat Memaafkan
Beberapa syarat dalam memaafkan di antaranya (Jaya, 1995: 91):

  1. Memaafkan itu harus timbul dari keinginan untuk berbuat baik (makruf),
    dan atas dasar keimanan dan ketakwaan.
  2. Memaafkan harus bertujuan untuk perbaikan, perdamaian serta untuk
    menghilangkan permusuhan dan kebencian.
  3. Memaafkan dilakukan bukan karena terpaksa ataupun bukan dalam
    keadaan tidak memiliki kemampuan untuk meng ambil pembalasan tetapi
    dilakukan dalam keadaan tidak terpaksa dan berkemampuan mengadakan
    pembalasan serta harus timbul atas dasar kemurahan hati.
  4. Maaf diberikan dengan maksud agar orang yang berbuat salah tidak lagi
    mengulangi kesalahannya, bertujuan untuk menimbulkan dampak
    positifpada diri pelaku dan dapat mengubah cara hidupnya di masa yang
    akan dating.
    27
  5. Memaafkan harus berada pada batas-batas yang ditentukan oleh agama.
    Orang yang menutup matanya terhadap perbuatan yang tidak sopan, dan
    menahan serangan atas kehormatan dan kesuciannya, mungkin ia bisa
    disenut pemaaf. Tetapi kepemaafan semacam itu adalah perbuatan tercela,
    karena melanggar kehormatan, kemuliaan dan kesucian dirinya sendiri.

Manfaat “Memaafkan” dari segi kesehatan

  1. Pemaafan baik untuk kesehatan jantung kita.

Penelitian ini melibatkan partisipan sebanyak 108 mahasiswa yang terdiri dari 44 laki-laki dan 64 perempuan. Para peserta diwawancarai sebanyak dua kali, satu kali perihal perlakuan buruk keluarga dan satu kali perihal perlakuan buruk teman atau kekasih. Selama proses tersebut peneliti kemudian mengukur tingkat pemaafan sekaligus melihat kondisi detak jantung serta stres yang dialami partisipan. Hasilnya, partisipan yang cenderung pemaaf memperlihatkan penurunan detak jantung dan tekanan darah serta menghilangkan stres. Ini dapat memperlihatkan manfaat kesehatan jangka panjang bagi jantung dan kesehatan Anda secara menyeluruh. Penelitian ini berjudul A change of heart: cardiovascular correlates of forgiveness in response to interpersonal conflict. Penelitian ini berasal dari para ilmuwan asal University of Tennessee, di antaranya Lawler KA, Younger JW, Piferi RL, Billington E, Jobe R, Edmondson K, dan Jones WH.

  1. Pemaafan berhubungan dengan 5 masalah kesehatan.

Sebuah penelitian kemudian menemukan pemaafan berhubungan positif dengan lima ukuran kesehatan: gejala fisik, penggunaan obat-obatan, kualitas tidur, kelelahan, dan keluhan somatik. Penelitian ini melibatkan 81 orang dewasa (19 laki-laki dan 62 perempuan) yang mendapatkan wawancara dan diminta mengisi kuesioner. Hasil penelitian menjelaskan bahwa orang-orang dengan kemampuan memaafkan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik, tidak menggunakan obat-obatan dan kualitas tidur yang lebih baik. Penelitian ini berjudul The Unique Effects of Forgiveness on Health: An Exploration of Pathways yang dipublikasikan oleh Journal of Behavioral Medicine.

  1. Pemaafan memberikan pengaruh pada orang lain.

Penelitian ketiga, yang diterbitkan dalam Buletin Kepribadian dan Sosial Psikologi, menemukan bahwa pemaafan tak hanya memulihkan pikiran, perasaan, dan perilaku positif tetapi mampu memberikan pengaruh positif pada perilaku orang lain. Pemaafan membuat orang lebih dekat dengan sikap sukarela, berdonasi, dan perilaku altruistik lainnya.

  1. Peranan Maaf Dalam Mengobati Gangguan Kejiwaan
    Maaf merupakan salah satu cara yang dipakai dalam “Ilmu Jiwa Islam”
    untuk mencapai kesejahteraan mental, karena dasar dari maaf tersebut adalah
    perbuatan baik dan makruf. Peranan maaf dalam mengobati gangguan kejiwaan
    terutama terletak pada penyembuhan sifat pemarah, dendam, dengki, serta sifatsifat lainnya yang bisa ditimbulkan oleh perasaan bersalah. Menurut ilmu jiwa,
    marah merupakan suatu emosi penting yang mempunyai fungsi esensial bagi
    kehidupan manusia, yakni membantunya dalam menjaga dirinya. Karena waktu
    orang sedang marah, energi untuk melakukan upaya fisik yang keras semakin
    meningkat. Hal ini memungkinkannya untuk mempertahankan diri dan mencapai
    tujuan (Jaya, 1995: 92).
  2. Peranan Maaf dalam Mencegah Ganguan Kejiwaan
    Makin meningkat keimanan dan ketaqwaan serta perbuatan baik yang
    dilakukan, maka semakin besar pula kemungkinan terhindar dari gangguan
    kejiwaan, karena banyak hal yang dapat menentramkan batinnya. Orang yang
    beriman dan bertaqwa kepada Allah selalu berusaha menjadikan keimanan dan
    ketaqwaan sebagai pengendali dan pengontrol terhadap sikap dan perbuatannya,
    dengan begitu dia akan jauh berkemungkinan untuk berbuat salah dan jauh pula ia
    dari gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh rasa bersalah. Perbuatan baik dapat
    juga memberikan cahaya kepada hati nurani yang membuahkan akhlak mulia dan
    menjadikan hati tentram. Keutamaan lain yang didapat oleh orang pemaaf adalah
    simpati orang banyak terhadap dirinya dan yang memudahkannya dalam
    mengadakan penyesuaian diri ke dalam kehidupan social dan masyarakat (Jaya,
    1995: 99)
  3. Peranan Maaf dalam Membina Kesehatan Mental
    Orang pemaaf adalah orang yang memiliki tingkat pembinaan mental yang
    tinggi. Sebab secara kejiwaan, apabila orang senang memberi maaf dan berbuat
    baikkepada orang lain yang berbuat jahat terhadapnya, berarti ia telah menjauhkan
    dirinya dari sifat marah, dendam dan dengki. Bagi orang yang dimaafkan, hal itu
    merupakan nikmat dalam hidupnya (Jaya, 1995: 101).

Cari ruangan yang nyaman minim gangguan.
Anda bisa melakukannya dengan posisi duduk santai di sofa atau bisa juga duduk dipinggiran kasur sebelum tidur.
Berdoa terlebih dahulu sesuai keyakinan Anda agar apa yang Anda lakukan berhasil.
Duduk dengan santai dan pejamkan mata Anda, niatkan untuk melakukan teknik ini dengan penuh kesadaran demi hidup yang lebih baik.
Tarik nafas yang dalam melalui hidung Anda secara perlahan, keluarkan perlahan pula lewat mulut.
Lakukan pernafasan tadi sambil Anda bilang pada diri Anda “Rileks”, lakukan sebanyak 10 hitungan atau sampai Anda benar-benar merasa rileks.
Ketika Anda sudah rileks, sekarang bayangkan, rasakan, dan dengarkan seolah-olah Anda memanggil diri Anda sendiri untuk datang ke hadapan Anda. Hadirkan ia di hadapan Anda. Santai, saja nikmati sampai Anda merasa benar-benar ia telah hadir. Setelah hadir bilang pada diri Anda “Wahai diriku, terimakasih atas segala pengorbanan dan usahamu selama ini. Apapun kesalahan yang pernah kamu lakukan sudah aku maafkan. Mari berkembang lebih baik lagi. I love you!”. Bayangkan ia kemudian tersenyum, lalu Anda peluk dia. Lalu izinkan dia untuk kembali pergi.
Atur kembali nafas Anda 3x tarikan dan hembusan nafas yang dalam.
Masuk ke list orang pertama. Sama seperti tadi, bayangkan, rasakan, dengarkan, dan coba hadirkan ia seolah-olah ada dihadapan Anda. Katakan padanya “A (nama orang tersebut), maafkan aku. Apapun kesalahanmu, itu sudah terjadi, yang bisa kita lakukan hanya perbaiki. Aku telah memaafkan semuanya”. Bayangkan orang tersebut tersenyum, mengangguk lalu pergi. Coret list orang pertama tadi dari kertas daftar Anda, kemudian ukur skala intensitas emosi Anda dari skala 0-10. Bandingkan dengan intensitas sebelum Anda melakukan ini.
Ulangi langkah nomor 9 hingga semua orang di daftar Anda sudah Anda coret.
Tutup sesinya dengan rasa dan ucapan syukur.

Teknik ke dua
Menurut Robert D. Enright (4 tahapan dalam memaafkan)
Kenali siapakah yang melukai Anda? Seberapa dalam Anda merasa terluka? Apa yang dikatakannya? Bagaimana Anda merespon?
Tahapan:

  1. Mengungkapkan kemarahan Anda
  2. Memutuskan memaafkan
  • Memiliki keinginan melakukan proses memaafkan
  • Memutuskan untuk memaafkan
  1. Melakukan pemaafan
  • Mencoba memahami
  • Melakukan hal yang baik
  • Menerima rasa sakit
  • Memberikan hadiah kepada pelaku
  1. Pendalaman
  • Menemukan makna dari penderitaan
  • Menemukan kebutuhan untuk memaafkan
  • Menemukan bahwa Anda tidak sendirian
  • Menemukan tujuan hidup Anda
  • Menemukan kebebasan memaafkan
  1. Dr. Robert Merkle dan Max B.Skousen (4 tahap pemaafan)
  2. Hiduplah dalam dunia nyata, bukan dunia imajinasi
    Ketahuilah bahwa masalah, rasa kesal dan kemarahan hanya ada dalam imajinasi Anda
  3. Gunakanlah cara Tuhan memandang sesuatu, bukan cara pandang Anda
    Anda perlu bertanya kepada diri sendiri “Haruskah saya melanjutkan memandang dengan cara saya atau melakukan dengan pilihan yang lebih baik?”
  4. Memaafkan adalah hadiah untuk Anda, bukan bagi orang lain
    Sadarilah bahwa memaafkan adalah hadiah yang datang kepada Anda. Anda tidak melakukan hal baik untuk orang lain dengan memaafkan, anda justru melakukan hal baik untuk diri Anda sendiri.
  5. Sadar bahwa hadiah itu dari Tuhan
    Anda hanya membiarkan rasa marah dan dendam pergi dan menerima hadiah saat ini dan di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *